Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Latar Belakang Berdirinya Hmi

  • Jumat, 23 Maret 2012
  • Nurhalim

  • “Sesungguhya, tahun-tahun permulaan riwayat HMI adalah hampir identik dengan kehidupan Lafran Pane sendiri. Karena dialah yang punya andil terbanyak pada mulabuka lahirnya HMI kalau tidak boleh kita katakan sebagai tokoh pendiri utamanya.(Media, No.7 Th. III. Rajab 1376 H/ Februari 1957, h. 32)
    Dengan ungkapan ini jelaslah hubungan Lafran Pane dengan HMI tidak bisa dipisahkan. Latar belakang pemikiran Lafran Pane untuk mendirikan HMI, adalah juga identik dengan latar belakang munculnya pemikiran HMI. Dengan demikian memahami pemikiran Lafran Pane, akan senantiasa terdapat proses komunikasi dan ekspresi dengan lingkungannya, yaitu negara Indonesia yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, dengan segala realitas dan totalitasnya. Pemikiran Lafran tidak bisa dipahami tanpa meletakkannya dalam suatu proses sejarah atau tradisi panjang yang melingkupinya.
    Sesuai dengan konteksnya, latar belakang munculnya pemikiran HMI adalah:
    1. Penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan perang kemerdekaan
    2. Kesenjangan dan kejumudan umat Islam dalam pengetahuan, pemahaman dan penghayatan serta pengamalan ajaran Islam
    3. Kebutuhan akan pemahaman, penghayatan keagamaan
    4. Munculnya polarisasi politik
    5. Perkembangan paham dan ajaran komunis
    6. Kedudukan Perguruan Tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis
    7. Kemajemukan bangsa Indonesia
    8. Tuntutan modernisasi dan tantangan masa depan

    Menangkap realitas historis dan berbagai persoalan dan perkembangan yang mengikutinya, tampilah Lafran Pane seorang mahasiswa yang sejak manjadi mahasiswa aktif mengamati dan memikirkan secara seksama perkembangan sosial, politik, dan budaya di tanah air, mengangkat kedelapan faktor di atas mejadi semangat spiritual. Idealisme ini diangkat menjadi suatu yang empiris dan pemikiran yang memiliki daya dukung konstruktif, guna merespon berbagai persoalan yang dihadapi bangsa saat itu.
    Setelah berulang kali mencoba mengadakan pembicaraan yang selalu gagal karena mendapat penentangan dari beberapa organisasi mahasiswa. Akhirnya, para hari Rabu Pon 1878, tanggal 14 Rabiul Awwal 1366 H bertepatan 5 Februari 1947 secara resmi dideklarasikan berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) oleh Lafran Pane bersama 14 orang laninnya yaitu: Kartono Zarkasy (Ambarawa), Dahlan Husein (Palembang), Siti Zainah (istri Dahlan Husein, Palembang), Maisaroh Hilal (cucu pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, Singapura), Soewali (Jember), Yusdi Gozali (Semarang, juga pendiri PII), M. Anwar (Malang), Hasan Basri (Surakarta), Marwan (Bengkulu), Tayeb Razak (Jakarta), Toha Mashudi (Malang), Bidron Hadi (Kauman-Yogyakarta), Zulkarnaen (Bengkulu), dan Mansyur.
  • Nurhalim

  • Indikator  ekonomi politk.
    Kekayaan 359 orang tekaya di dunia setera dengan kekeyaan 2,9 milyar orang-orang termiskin di dunia. Terdapat 5 milyar penduduk bumi kita dan kita hanya dapat megambil sebanyak 359 orang yang terbilang terkaya, dimana perkiraan lebih dari jumlah penduduk bumi.
    Total kekayaan 3 orang terkaya di dunia bila digabungkan sama dengan GDP 48 negara termiskin. Untuk mengatasi permasalhan penduduk di dunia dalam ketersedian kebutuhan dasarnya (makanan, air pendidikan, kesehatan) dan untuk mengatasi kelaparan, kekurangan gizi, dan wabah penyakit yang dibutuhkan adalah 4 % dari akumulasi kekayaan 255 orang terkaya di dunia.
    Untuk memenuhi kebutuhan di dunia, kesehatan dan makanan, keseluruhab dibutuhkan 13 milyar. Jumlah ini setera dengan total pengeluaran pembeli parfum di eropa. Sudah jelas bahwasanya adalah sesungguhnya terdapat sebuah kontra diksi yang sanagt mendasar dalam masyrakat kita saat ini. Sanagt mencengangkan, dimana ditengah-tengah kesejahteraan, kemakmuran dan kekayaan terdapat reproduksi kemiskinan, kesengsaraan yang terus diterjadi.

    Hilangnya Daya Kritis Mahasiswa

  • Rabu, 21 Maret 2012
  • Nurhalim

  • NOAM CHOMSKY (1969) dalam bukunya “The Menance Of Liberal Scholarship”  menjelaskan kegagalan mahasiswa/akademisi dalam mengkritisi kebijakan dan tindakan pemerinta/birokrat yang tidak berpihak pada masyarakat luas.
    Hilangnya daya kritis mahasiswa tersebut akibat dari “perselingkuhan” antara para penguasa dengan elit politik guna memperoleh uang dan kekuasaan melalui profesionalisme keilmuan, akhirnya budaya membaca, menulis dan diskusi hilang diakibatkan pemikiran yang pragmatism. Sehingga, tidak mengherankan banyak kasus-kasus yang kita temui para akademisi tampak gagap dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.
    Sebagaimana digambarkan Aries Toteles terhadap kesulitan yang dialami para filsuf dalam memisahkan subjek-matter yang dalam realitasnya tidak bisa dipisahkan. Tanggung jawab moril sebagai Agent of Change,  Moral of Force, dan Social of Control terkadang menjadi sesuatu yang pribadi yang hanya melibatkan peraturan prilaku personal.
    Dengan demikian, salah satu persoalan yang dihadapi mahasiswa dalam hubungannya dengan etika tampaknya terkait dengan pertanyaan mana yang lebih penting antara mralitas pribadi dengan moralitas public. Sehingga transformasi keilmuan dalam kehidupan praktis menjadi kewajiban mahasiswa untuk mewujudkan harapan dari masyarakat sebagai indicator dan barometer keberhasilan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI.
    Untuk itu, mahasiswa membutuhkan transformasi dan membangkitkan kembali Tri Budaya yaitu membaca, menulis dan diskusi, supaya mahasiswa memiliki dimensi-dimensi keilmuan variatif dan interdisipliner yang berbasis nilai

    Hilangnya Daya Kritis Mahasiswa

  • Nurhalim

  • NOAM CHOMSKY (1969) dalam bukunya “The Menance Of Liberal Scholarship”  menjelaskan kegagalan mahasiswa/akademisi dalam mengkritisi kebijakan dan tindakan pemerinta/birokrat yang tidak berpihak pada masyarakat luas.
    Hilangnya daya kritis mahasiswa tersebut akibat dari “perselingkuhan” antara para penguasa dengan elit politik guna memperoleh uang dan kekuasaan melalui profesionalisme keilmuan, akhirnya budaya membaca, menulis dan diskusi hilang diakibatkan pemikiran yang pragmatism. Sehingga, tidak mengherankan banyak kasus-kasus yang kita temui para akademisi tampak gagap dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.
    Sebagaimana digambarkan Aries Toteles terhadap kesulitan yang dialami para filsuf dalam memisahkan subjek-matter yang dalam realitasnya tidak bisa dipisahkan. Tanggung jawab moril sebagai Agent of Change,  Moral of Force, dan Social of Control terkadang menjadi sesuatu yang pribadi yang hanya melibatkan peraturan prilaku personal.
    Dengan demikian, salah satu persoalan yang dihadapi mahasiswa dalam hubungannya dengan etika tampaknya terkait dengan pertanyaan mana yang lebih penting antara mralitas pribadi dengan moralitas public. Sehingga transformasi keilmuan dalam kehidupan praktis menjadi kewajiban mahasiswa untuk mewujudkan harapan dari masyarakat sebagai indicator dan barometer keberhasilan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI.
    Untuk itu, mahasiswa membutuhkan transformasi dan membangkitkan kembali Tri Budaya yaitu membaca, menulis dan diskusi, supaya mahasiswa memiliki dimensi-dimensi keilmuan variatif dan interdisipliner yang berbasis nilai

    Dimana Kampus Hijauku Yang Dulu

  • Nurhalim

  • Tiap manusia adalah pelaku sejarah kehidupan baik sadar maupun dalam ketidak sadarannya. Bahkan nabi pun mengatakan tiap diri manusia itu adalah pemimpin, pengaruh yang di timbulkan manusia akan membawa dampak bagi dirinya dan lingkungannya , mungkin orang yang belajar ilmu social mengatas namakan sociology .
    Masih teringat pertama kali menginjakkan kaki di kampus hijau yang penuh dengan pesona tak henti mata memandang senyum  para mahasiswa yang asik bercengkrama dan keramahan sang pemegang otoritas dalam memberikan fasilitas, silaturahmi yang berjalan begitu elok nan islami tak ada sekat . kampus bagai rumah kedua setelah  kosan ataupun rumah sebenarnya.
    Bangunan tua yang kini mungkin sudah terlupakan bahkan berdebu  menjadi saksi betapa kentalnya nuansa kebersamaan mahasiswa,  tak ada teman se fakultas yang tak terlihat walaupun hanya sekedar kenal muka , pertemuan yang sangat kental nuansa kekerabatan juga menjadi ciri khas saat di mana sang kaka mngetahui adiknya dan sang adik mengenal Kaka – nya.
    Sudah lazim terngiang di telinga  panggilan kanda dan dinda yang melekat khas pada kebersamaan di  bangunan tua kampus itu. Juga  tidak terlupakan Perlawanan  bergerilya dan lantang bersuara , bahkan pengkajian fenomena otoriras rezim dalam mengambil kebijakan menjadi kajian bersama mahasiswa, dialektika yang terjadi menjadi sarapan pagi pemikiran mahasiswa melihat Negaranya, sebagai salah satu tugasnya “ control of social”.
    Iklim kampus  yang dibumbuhi pemikiran yang mendalam atas masalah yang menjadi topic pembicaraan media menjadi tolak ukur berfikir benar dan tidak gampang ikut arus shingga terombang ambing oleh kerancuan berfikir.  Hampir berbanding terbalik di saat sekarang. entah bagaimana ini terjadi? Atau bagaimana ini ditimbulkan ?
    Seperti boneka dengan atribut kemahasiswaan yang hanya patuh dan taat pada pemegang otoritas dan  terpacu oleh nominalisasi angka pada Indeks Prestasi Komulatif menjadi patron  keberhasilan dari tujuan menjadi seorang mahasiswa. Tak ada lagi suara tak ada lagi kritikan yang hanya adalah Ketegangan dan menjadi generasi  yang berupa angka.
    Senyuman di raut muka itu hilang entah kemana? Mereka hanya sibuk dengan teman sekelas untuk cepat menyelesaikan tugas dari dosen selayaknya sang opurtinitis, yang hanya ada saat berkepentingan. dan sesudah berlalu begitu saja menjadi sosok yang tak perlu  mendengar dan melihat orang di sekitarnya cukup tugas terkumpul dan kembali lagi ke tempat kediaman untuk beristirahat tunggu kuliah selanjutnya dan mendapatkan tugas.
    Tidak cukup sampai di situ,  kebiasaan yang modern dan trendi atau biasanya di katakan modis menjadi santapan untuk dapat menjadi klan atau kasta tersendiri yang meng hegemoni supaya eksis dan menjadi sosok lain dari yang lain agar  menjadi popular, tak peduli hal itu bernilai Islami atau mengikut dari bangsa lain.
    Tak hentinya saya berfikir bagaimana semua ini menjadi culture di kampus yang katanya ingin menjadi tempat peradaban islam yang moderat . dengan berorientasikan pada kampus kelas dunia, tapi apakah juga harus merubah mahasiswa menjadi serba pragmatis dan berkrakter hedonism?
    Sungguh ironi, namun ini juga tak lepas dari pengaruh globalisasi yang sangat canggih hingga menjadikan kita sebagai pecandu , karena system dunia telah berubah menjadi serba digital,  Hanya perlakuan bijak yang harus dilakukan pihak otoritas agar semuanya tidak menjadi rancuh dalam konsepsi nilai Islami yang menjadi orientasi hakiki.
    Hambali Husain
    Fakultas Syariah dan Hukum
    Ilmu Hukum, Semester VIII