Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Dimana Kampus Hijauku Yang Dulu

  • Rabu, 21 Maret 2012
  • Nurhalim

  • Tiap manusia adalah pelaku sejarah kehidupan baik sadar maupun dalam ketidak sadarannya. Bahkan nabi pun mengatakan tiap diri manusia itu adalah pemimpin, pengaruh yang di timbulkan manusia akan membawa dampak bagi dirinya dan lingkungannya , mungkin orang yang belajar ilmu social mengatas namakan sociology .
    Masih teringat pertama kali menginjakkan kaki di kampus hijau yang penuh dengan pesona tak henti mata memandang senyum  para mahasiswa yang asik bercengkrama dan keramahan sang pemegang otoritas dalam memberikan fasilitas, silaturahmi yang berjalan begitu elok nan islami tak ada sekat . kampus bagai rumah kedua setelah  kosan ataupun rumah sebenarnya.
    Bangunan tua yang kini mungkin sudah terlupakan bahkan berdebu  menjadi saksi betapa kentalnya nuansa kebersamaan mahasiswa,  tak ada teman se fakultas yang tak terlihat walaupun hanya sekedar kenal muka , pertemuan yang sangat kental nuansa kekerabatan juga menjadi ciri khas saat di mana sang kaka mngetahui adiknya dan sang adik mengenal Kaka – nya.
    Sudah lazim terngiang di telinga  panggilan kanda dan dinda yang melekat khas pada kebersamaan di  bangunan tua kampus itu. Juga  tidak terlupakan Perlawanan  bergerilya dan lantang bersuara , bahkan pengkajian fenomena otoriras rezim dalam mengambil kebijakan menjadi kajian bersama mahasiswa, dialektika yang terjadi menjadi sarapan pagi pemikiran mahasiswa melihat Negaranya, sebagai salah satu tugasnya “ control of social”.
    Iklim kampus  yang dibumbuhi pemikiran yang mendalam atas masalah yang menjadi topic pembicaraan media menjadi tolak ukur berfikir benar dan tidak gampang ikut arus shingga terombang ambing oleh kerancuan berfikir.  Hampir berbanding terbalik di saat sekarang. entah bagaimana ini terjadi? Atau bagaimana ini ditimbulkan ?
    Seperti boneka dengan atribut kemahasiswaan yang hanya patuh dan taat pada pemegang otoritas dan  terpacu oleh nominalisasi angka pada Indeks Prestasi Komulatif menjadi patron  keberhasilan dari tujuan menjadi seorang mahasiswa. Tak ada lagi suara tak ada lagi kritikan yang hanya adalah Ketegangan dan menjadi generasi  yang berupa angka.
    Senyuman di raut muka itu hilang entah kemana? Mereka hanya sibuk dengan teman sekelas untuk cepat menyelesaikan tugas dari dosen selayaknya sang opurtinitis, yang hanya ada saat berkepentingan. dan sesudah berlalu begitu saja menjadi sosok yang tak perlu  mendengar dan melihat orang di sekitarnya cukup tugas terkumpul dan kembali lagi ke tempat kediaman untuk beristirahat tunggu kuliah selanjutnya dan mendapatkan tugas.
    Tidak cukup sampai di situ,  kebiasaan yang modern dan trendi atau biasanya di katakan modis menjadi santapan untuk dapat menjadi klan atau kasta tersendiri yang meng hegemoni supaya eksis dan menjadi sosok lain dari yang lain agar  menjadi popular, tak peduli hal itu bernilai Islami atau mengikut dari bangsa lain.
    Tak hentinya saya berfikir bagaimana semua ini menjadi culture di kampus yang katanya ingin menjadi tempat peradaban islam yang moderat . dengan berorientasikan pada kampus kelas dunia, tapi apakah juga harus merubah mahasiswa menjadi serba pragmatis dan berkrakter hedonism?
    Sungguh ironi, namun ini juga tak lepas dari pengaruh globalisasi yang sangat canggih hingga menjadikan kita sebagai pecandu , karena system dunia telah berubah menjadi serba digital,  Hanya perlakuan bijak yang harus dilakukan pihak otoritas agar semuanya tidak menjadi rancuh dalam konsepsi nilai Islami yang menjadi orientasi hakiki.
    Hambali Husain
    Fakultas Syariah dan Hukum
    Ilmu Hukum, Semester VIII

    0 komentar:

    Posting Komentar