Tiap
manusia adalah pelaku sejarah kehidupan baik sadar maupun dalam ketidak
sadarannya. Bahkan nabi pun mengatakan tiap diri manusia itu adalah pemimpin,
pengaruh yang di timbulkan manusia akan membawa dampak bagi dirinya dan lingkungannya
, mungkin orang yang belajar ilmu social mengatas namakan sociology .
Masih
teringat pertama kali menginjakkan kaki di kampus hijau yang penuh dengan
pesona tak henti mata memandang senyum
para mahasiswa yang asik bercengkrama dan keramahan sang pemegang
otoritas dalam memberikan fasilitas, silaturahmi yang berjalan begitu elok nan
islami tak ada sekat . kampus bagai rumah kedua setelah kosan ataupun rumah sebenarnya.
Bangunan
tua yang kini mungkin sudah terlupakan bahkan berdebu menjadi saksi betapa kentalnya nuansa
kebersamaan mahasiswa, tak ada teman se
fakultas yang tak terlihat walaupun hanya sekedar kenal muka , pertemuan yang
sangat kental nuansa kekerabatan juga menjadi ciri khas saat di mana sang kaka
mngetahui adiknya dan sang adik mengenal Kaka – nya.
Sudah
lazim terngiang di telinga panggilan
kanda dan dinda yang melekat khas pada kebersamaan di bangunan tua kampus itu. Juga tidak terlupakan Perlawanan bergerilya dan lantang bersuara , bahkan
pengkajian fenomena otoriras rezim dalam mengambil kebijakan menjadi kajian
bersama mahasiswa, dialektika yang terjadi menjadi sarapan pagi pemikiran
mahasiswa melihat Negaranya, sebagai salah satu tugasnya “ control of social”.
Iklim
kampus yang dibumbuhi pemikiran yang
mendalam atas masalah yang menjadi topic pembicaraan media menjadi tolak ukur
berfikir benar dan tidak gampang ikut arus shingga terombang ambing oleh kerancuan
berfikir. Hampir berbanding terbalik di
saat sekarang. entah bagaimana ini terjadi? Atau bagaimana ini ditimbulkan ?
Seperti
boneka dengan atribut kemahasiswaan yang hanya patuh dan taat pada pemegang
otoritas dan terpacu oleh nominalisasi
angka pada Indeks Prestasi Komulatif menjadi patron keberhasilan dari tujuan menjadi seorang
mahasiswa. Tak ada lagi suara tak ada lagi kritikan yang hanya adalah Ketegangan
dan menjadi generasi yang berupa angka.
Senyuman
di raut muka itu hilang entah kemana? Mereka hanya sibuk dengan teman sekelas
untuk cepat menyelesaikan tugas dari dosen selayaknya sang opurtinitis, yang
hanya ada saat berkepentingan. dan sesudah berlalu begitu saja menjadi sosok
yang tak perlu mendengar dan melihat
orang di sekitarnya cukup tugas terkumpul dan kembali lagi ke tempat kediaman
untuk beristirahat tunggu kuliah selanjutnya dan mendapatkan tugas.
Tidak
cukup sampai di situ, kebiasaan yang
modern dan trendi atau biasanya di katakan modis menjadi santapan untuk dapat
menjadi klan atau kasta tersendiri yang meng hegemoni supaya eksis dan menjadi
sosok lain dari yang lain agar menjadi popular,
tak peduli hal itu bernilai Islami atau mengikut dari bangsa lain.
Tak
hentinya saya berfikir bagaimana semua ini menjadi culture di kampus yang
katanya ingin menjadi tempat peradaban islam yang moderat . dengan
berorientasikan pada kampus kelas dunia, tapi apakah juga harus merubah
mahasiswa menjadi serba pragmatis dan berkrakter hedonism?
Sungguh
ironi, namun ini juga tak lepas dari pengaruh globalisasi yang sangat canggih
hingga menjadikan kita sebagai pecandu , karena system dunia telah berubah
menjadi serba digital, Hanya perlakuan
bijak yang harus dilakukan pihak otoritas agar semuanya tidak menjadi rancuh
dalam konsepsi nilai Islami yang menjadi orientasi hakiki.
Hambali
Husain
Fakultas
Syariah dan Hukum
Ilmu
Hukum, Semester VIII

0 komentar:
Posting Komentar