Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image
  • Rabu, 21 Maret 2012
  • Nurhalim

  • Budaya kita dan globalisasi

    Berbicara tentang globalisasi, kita akan berfikir tentang sebuah dunia yang semakin terbuka dan akan membawa kita pada perspektif  “dunia tanpa batas”. Bagaimana tidak, globalisasi telah melahirkan banyak hal-hal baru yang kadang ruang dan waktu menjadi tak berarti. Contohnya saja ketika kita bisa bertatap muka meski satu sama lain dipisahkan jarak yang begitu jauh. Tentu saja globalisasi adalah produk yang memberi kita banyak hal. Berbagai macam keuntungan-keuntungan telah ada dalam dunia globalisasi.
    Globalisasi lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi transportasi dan komunikasi. Nah, perkembangan ini akan memberi sumbangsih besar pada perubahan-perubahan dari berbagai sisi, utamanya dari segi kebudayaan. Sadar tidak sadar, bahwa kebudayaan kita perlahan-lahan mulai tererosi oleh kebudayaan globalisasi yang datangnya dari barat.
    jika kita menoleh kesamping dan melihat dampak globalisasi bagi kebudayaa kita, tentu saja banyak dampak buruk. Okelah kalau ada yang bilang itu karena penyalahgunaan konsumsi. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata kita bahwa globalisasi telah berjasa besar dalam member ruang yang lebar terhadap berbagai macam kemungkinan-kemungkinan buruk. Khususnya untuk terdegradasinya kebudayaan kita.
      Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Yang jadi masalah, pemahaman kita akan globalisasi tentu saja berbeda-beda sehingga banyak persepsi yang lahir yang tentu saja akan melahirkan aksi yang berbeda pula dalam mengkonsumsi sajian dari globalisasi tersebut. Kita semua bisa melihat sendiri itu. Fenomena anak melawan orangtua, berpakaian yang agak provokatif, dan lain sebagainya adalah contoh kecil dari dampak globalisasi itu.
    Kedatangan globalisasi akan mengerus kebudayaan kita yang terkenal dengan budaya timur yang lebih mengedepankan nila-nilai dan norma-norma yang selama ini kita pertahankan. Namun, sejak globalisasi datang dan membawa sejumlah hal-hal baru yang menarik, nilai-nilai dan norma-norma itu perlahan mulai memudar. Kita bisa melihat, bagaimana keseharian kita berubah oleh globalisasi. Kita juga bisa melihat, bagaimana anak-anak muda merasa bahwa mempelajari budaya sudah kuno dan tidak menarik. Padahal, dari sanalah kita berasal. Dari sanalah kita dibesarkan. Pernahkah kita berfikir bahwa budaya globalisasi banyak mengandung hal-hal yang berbau penjajahan kebudayaan?
    Masyarakat kita yang dulunya tertutup menjadi terbuka, budaya pluralism yang semakin kencang digaungkan, dan berbagai tayangan-tayangan dari TV yang ada di tanah air kita mempertontonkan siaran yang muaranya adalah budaya yang berasal dari negeri-negeri maju seperti amerika serikat, jepang, korea, dll. Belum lagi kesenian-kesenian popular yang dibungkus dalam bentuk kaset, vcd, dvd pun makin marak dimasyarakat kita. Hal ini member gambaran akan fakta bahwa Negara-negara yang maju tekhnologinya telah memegang kendali dalam proses perubahan budaya kita. Perubahan transkultural ini mau tidak mau akan berpengaruh dalam kesenian daerah kita yang notabenenya asalah salah satu khazanah kebudayaan kita.  Tayangan-tayangan dari negeri maju yang semakin mudah didapati dan dibeli, telah berjasa besar dalam merosotnya nilai budaya itu.
    Kemana gaung kesenian kita? Tentu merupakan sebuah wacana yang menarik untuk kita simak dan sikapi. Semakin mudahnya akses informasi telah membawa kita pada dunia yang memunculkan warna-warna baru dalam sajian hiburan. Pementasan kesenian kita yang dulunya sarat akan nuansa ritual telah hilang eksistensinya menajdi hiburan yang lebih komersial dan mengutamakan hal-hal yang bersifat material.
    Memang, perkembangan ini tidak bisa kita elakkan kehadirannya. Namun, adalah bodoh jika kita sebagai masyarakat yang berbudaya menerima begitu saja semua sajian dari globalisasi. Kita semestinya melestarikan budaya yang selama ini menghiasi hidup kita. Tidak mengenggap kebudayaan itu sebagai sesuatu yang ketinggalan jaman. Tapi melihatnya sebagai identitas bangsa dan bangga dengan budaya itu.
    Semoga esok, kita mau mempelajari budaya kita sendir. Bukan mabuk dengan budaya orang lain.
    Amin.

    0 komentar:

    Posting Komentar