Budaya
kita dan globalisasi
Berbicara tentang globalisasi, kita
akan berfikir tentang sebuah dunia yang semakin terbuka dan akan membawa kita
pada perspektif “dunia tanpa batas”.
Bagaimana tidak, globalisasi telah melahirkan banyak hal-hal baru yang kadang
ruang dan waktu menjadi tak berarti. Contohnya saja ketika kita bisa bertatap
muka meski satu sama lain dipisahkan jarak yang begitu jauh. Tentu saja
globalisasi adalah produk yang memberi kita banyak hal. Berbagai macam
keuntungan-keuntungan telah ada dalam dunia globalisasi.
Globalisasi lahir dari perkembangan
ilmu pengetahuan, teknologi transportasi dan komunikasi. Nah, perkembangan ini
akan memberi sumbangsih besar pada perubahan-perubahan dari berbagai sisi,
utamanya dari segi kebudayaan. Sadar tidak sadar, bahwa kebudayaan kita
perlahan-lahan mulai tererosi oleh kebudayaan globalisasi yang datangnya dari
barat.
jika kita menoleh kesamping dan
melihat dampak globalisasi bagi kebudayaa kita, tentu saja banyak dampak buruk.
Okelah kalau ada yang bilang itu karena penyalahgunaan konsumsi. Namun, kita
juga tidak bisa menutup mata kita bahwa globalisasi telah berjasa besar dalam
member ruang yang lebar terhadap berbagai macam kemungkinan-kemungkinan buruk.
Khususnya untuk terdegradasinya kebudayaan kita.
Konsep akan globalisasi menurut
Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan
peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi
global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Yang jadi masalah, pemahaman
kita akan globalisasi tentu saja berbeda-beda sehingga banyak persepsi yang
lahir yang tentu saja akan melahirkan aksi yang berbeda pula dalam mengkonsumsi
sajian dari globalisasi tersebut. Kita semua bisa melihat sendiri itu. Fenomena
anak melawan orangtua, berpakaian yang agak provokatif, dan lain sebagainya
adalah contoh kecil dari dampak globalisasi itu.
Kedatangan globalisasi akan mengerus
kebudayaan kita yang terkenal dengan budaya timur yang lebih mengedepankan
nila-nilai dan norma-norma yang selama ini kita pertahankan. Namun, sejak
globalisasi datang dan membawa sejumlah hal-hal baru yang menarik, nilai-nilai
dan norma-norma itu perlahan mulai memudar. Kita bisa melihat, bagaimana
keseharian kita berubah oleh globalisasi. Kita juga bisa melihat, bagaimana
anak-anak muda merasa bahwa mempelajari budaya sudah kuno dan tidak menarik.
Padahal, dari sanalah kita berasal. Dari sanalah kita dibesarkan. Pernahkah
kita berfikir bahwa budaya globalisasi banyak mengandung hal-hal yang berbau
penjajahan kebudayaan?
Masyarakat kita yang dulunya tertutup
menjadi terbuka, budaya pluralism yang semakin kencang digaungkan, dan berbagai
tayangan-tayangan dari TV yang ada di tanah air kita mempertontonkan siaran
yang muaranya adalah budaya yang berasal dari negeri-negeri maju seperti
amerika serikat, jepang, korea, dll. Belum lagi kesenian-kesenian popular yang
dibungkus dalam bentuk kaset, vcd, dvd pun makin marak dimasyarakat kita. Hal
ini member gambaran akan fakta bahwa Negara-negara yang maju tekhnologinya
telah memegang kendali dalam proses perubahan budaya kita. Perubahan
transkultural ini mau tidak mau akan berpengaruh dalam kesenian daerah kita
yang notabenenya asalah salah satu khazanah kebudayaan kita. Tayangan-tayangan dari negeri maju yang
semakin mudah didapati dan dibeli, telah berjasa besar dalam merosotnya nilai
budaya itu.
Kemana gaung kesenian kita? Tentu
merupakan sebuah wacana yang menarik untuk kita simak dan sikapi. Semakin
mudahnya akses informasi telah membawa kita pada dunia yang memunculkan
warna-warna baru dalam sajian hiburan. Pementasan kesenian kita yang dulunya
sarat akan nuansa ritual telah hilang eksistensinya menajdi hiburan yang lebih
komersial dan mengutamakan hal-hal yang bersifat material.
Memang, perkembangan ini tidak bisa
kita elakkan kehadirannya. Namun, adalah bodoh jika kita sebagai masyarakat
yang berbudaya menerima begitu saja semua sajian dari globalisasi. Kita
semestinya melestarikan budaya yang selama ini menghiasi hidup kita. Tidak
mengenggap kebudayaan itu sebagai sesuatu yang ketinggalan jaman. Tapi
melihatnya sebagai identitas bangsa dan bangga dengan budaya itu.
Semoga esok, kita mau mempelajari
budaya kita sendir. Bukan mabuk dengan budaya orang lain.
Amin.

0 komentar:
Posting Komentar