Ketika Rakyat Marah
Aksi
bakar diri sondang hutagalung menjadi alat ukur yang tidak terbentahkan betapa
rakyat sudah sampai ambang batas kemarahan. Sondang marah ketika melihat
ketidak adilan yang terus terjadi. Sebagai intelektual muda ia berharap susilo
bambang hudiyono (SBY) bias di ingatkan melalui aksi-aksi ataupu melalui 1600
surat yang ia kirimkan langsung ke SBY. Tetapi ternyata dari 1600 surat itu
tidak ada satu pun yang dijawab oleh SBY
ataupun juru bicaranya. Bahkan kekecewaan sondang semakin sempurna ketika SBY
“memerintahkan” aparaturnya menembaki rakyat di tiaka, papua, Mesuji dan di
bima.
Tuan,
sebesar apapun keliber peluru senjata mu tak akan mampu lagi hntikan golambang
kemarahan itu. Seindahan apa pun isi pidato mu sudah tak mampu mengulur batas
kesabaran rakyat. Air mata curhat mu, hingga ancaman dan terror yang engaku
sampaikan sama sekali tidak membuat rakyat luluh atau ketakutan. Kesabaran itu
sudah habis, kemarahan rakyat sudah mengelora hingga tak ada lagi sedikit pun
ruang bagi rasa takut di dada mereka!
Tuan,
rakyat sama sekali tidak buta, sama sekali tidak tuli. Di dalam kesederhanaan
pakaian mereka tidak memiliki kejernihan jiwa, dalam kesederhanaan lauk
makanannya mereka memiliki ketajaman hati yang biasa membedakan bahwa engkau tidak
berkata benar, bahwa engkau tak layak lagi dipertahankan….. bahwa engkau harus
turun!
Tuan,
kemarahan rakyat bukan tak punya alas an. Rakyat tahu bahwa engkau menyiksa
seorang nenek yang mencuri buah pala. Tetapi engkau habiskan uang sebesar 40
milyar untuk menikahkan anak mu. Rakyat tahu bagaimana kau memukuli bagai
anjing para mahasiswa yang demonstrasi menuntut para koruptor sementar engkau
siapkan kama mewah sekelas hotel bintang lima bagi atalyta sang ratu koruptor.
Rakyat tahu bagaiman kau tembaki petani dan nelayan jambi, tabanio dan tiaka
yang menuntut haknya sementara engkau menjaga rumah para koruptor yang telah
merampok negeri ini…… sekali lagi tuan, rakyat tahu engkau TIDAK ADIL!

0 komentar:
Posting Komentar