NOAM CHOMSKY (1969) dalam bukunya “The Menance Of Liberal Scholarship” menjelaskan kegagalan mahasiswa/akademisi
dalam mengkritisi kebijakan dan tindakan pemerinta/birokrat yang tidak berpihak
pada masyarakat luas.
Hilangnya
daya kritis mahasiswa tersebut akibat dari “perselingkuhan” antara para
penguasa dengan elit politik guna memperoleh uang dan kekuasaan melalui
profesionalisme keilmuan, akhirnya budaya membaca, menulis dan diskusi hilang
diakibatkan pemikiran yang pragmatism. Sehingga, tidak mengherankan banyak kasus-kasus
yang kita temui para akademisi tampak gagap dalam memberikan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Sebagaimana
digambarkan Aries Toteles terhadap kesulitan yang dialami para filsuf dalam
memisahkan subjek-matter yang dalam realitasnya tidak bisa dipisahkan. Tanggung
jawab moril sebagai Agent of Change,
Moral of Force, dan Social of Control terkadang menjadi sesuatu yang
pribadi yang hanya melibatkan peraturan prilaku personal.
Dengan
demikian, salah satu persoalan yang dihadapi mahasiswa dalam hubungannya dengan
etika tampaknya terkait dengan pertanyaan mana yang lebih penting antara
mralitas pribadi dengan moralitas public. Sehingga transformasi keilmuan dalam
kehidupan praktis menjadi kewajiban mahasiswa untuk mewujudkan harapan dari
masyarakat sebagai indicator dan barometer keberhasilan TRI DARMA PERGURUAN
TINGGI.
Untuk
itu, mahasiswa membutuhkan transformasi dan membangkitkan kembali Tri Budaya
yaitu membaca, menulis dan diskusi, supaya mahasiswa memiliki dimensi-dimensi
keilmuan variatif dan interdisipliner yang berbasis nilai

0 komentar:
Posting Komentar