Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image
  • Jumat, 23 Maret 2012
  • Nurhalim

  • Indikator  ekonomi politk.
    Kekayaan 359 orang tekaya di dunia setera dengan kekeyaan 2,9 milyar orang-orang termiskin di dunia. Terdapat 5 milyar penduduk bumi kita dan kita hanya dapat megambil sebanyak 359 orang yang terbilang terkaya, dimana perkiraan lebih dari jumlah penduduk bumi.
    Total kekayaan 3 orang terkaya di dunia bila digabungkan sama dengan GDP 48 negara termiskin. Untuk mengatasi permasalhan penduduk di dunia dalam ketersedian kebutuhan dasarnya (makanan, air pendidikan, kesehatan) dan untuk mengatasi kelaparan, kekurangan gizi, dan wabah penyakit yang dibutuhkan adalah 4 % dari akumulasi kekayaan 255 orang terkaya di dunia.
    Untuk memenuhi kebutuhan di dunia, kesehatan dan makanan, keseluruhab dibutuhkan 13 milyar. Jumlah ini setera dengan total pengeluaran pembeli parfum di eropa. Sudah jelas bahwasanya adalah sesungguhnya terdapat sebuah kontra diksi yang sanagt mendasar dalam masyrakat kita saat ini. Sanagt mencengangkan, dimana ditengah-tengah kesejahteraan, kemakmuran dan kekayaan terdapat reproduksi kemiskinan, kesengsaraan yang terus diterjadi.

    Hilangnya Daya Kritis Mahasiswa

  • Rabu, 21 Maret 2012
  • Nurhalim

  • NOAM CHOMSKY (1969) dalam bukunya “The Menance Of Liberal Scholarship”  menjelaskan kegagalan mahasiswa/akademisi dalam mengkritisi kebijakan dan tindakan pemerinta/birokrat yang tidak berpihak pada masyarakat luas.
    Hilangnya daya kritis mahasiswa tersebut akibat dari “perselingkuhan” antara para penguasa dengan elit politik guna memperoleh uang dan kekuasaan melalui profesionalisme keilmuan, akhirnya budaya membaca, menulis dan diskusi hilang diakibatkan pemikiran yang pragmatism. Sehingga, tidak mengherankan banyak kasus-kasus yang kita temui para akademisi tampak gagap dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.
    Sebagaimana digambarkan Aries Toteles terhadap kesulitan yang dialami para filsuf dalam memisahkan subjek-matter yang dalam realitasnya tidak bisa dipisahkan. Tanggung jawab moril sebagai Agent of Change,  Moral of Force, dan Social of Control terkadang menjadi sesuatu yang pribadi yang hanya melibatkan peraturan prilaku personal.
    Dengan demikian, salah satu persoalan yang dihadapi mahasiswa dalam hubungannya dengan etika tampaknya terkait dengan pertanyaan mana yang lebih penting antara mralitas pribadi dengan moralitas public. Sehingga transformasi keilmuan dalam kehidupan praktis menjadi kewajiban mahasiswa untuk mewujudkan harapan dari masyarakat sebagai indicator dan barometer keberhasilan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI.
    Untuk itu, mahasiswa membutuhkan transformasi dan membangkitkan kembali Tri Budaya yaitu membaca, menulis dan diskusi, supaya mahasiswa memiliki dimensi-dimensi keilmuan variatif dan interdisipliner yang berbasis nilai

    Hilangnya Daya Kritis Mahasiswa

  • Nurhalim

  • NOAM CHOMSKY (1969) dalam bukunya “The Menance Of Liberal Scholarship”  menjelaskan kegagalan mahasiswa/akademisi dalam mengkritisi kebijakan dan tindakan pemerinta/birokrat yang tidak berpihak pada masyarakat luas.
    Hilangnya daya kritis mahasiswa tersebut akibat dari “perselingkuhan” antara para penguasa dengan elit politik guna memperoleh uang dan kekuasaan melalui profesionalisme keilmuan, akhirnya budaya membaca, menulis dan diskusi hilang diakibatkan pemikiran yang pragmatism. Sehingga, tidak mengherankan banyak kasus-kasus yang kita temui para akademisi tampak gagap dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.
    Sebagaimana digambarkan Aries Toteles terhadap kesulitan yang dialami para filsuf dalam memisahkan subjek-matter yang dalam realitasnya tidak bisa dipisahkan. Tanggung jawab moril sebagai Agent of Change,  Moral of Force, dan Social of Control terkadang menjadi sesuatu yang pribadi yang hanya melibatkan peraturan prilaku personal.
    Dengan demikian, salah satu persoalan yang dihadapi mahasiswa dalam hubungannya dengan etika tampaknya terkait dengan pertanyaan mana yang lebih penting antara mralitas pribadi dengan moralitas public. Sehingga transformasi keilmuan dalam kehidupan praktis menjadi kewajiban mahasiswa untuk mewujudkan harapan dari masyarakat sebagai indicator dan barometer keberhasilan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI.
    Untuk itu, mahasiswa membutuhkan transformasi dan membangkitkan kembali Tri Budaya yaitu membaca, menulis dan diskusi, supaya mahasiswa memiliki dimensi-dimensi keilmuan variatif dan interdisipliner yang berbasis nilai

    Dimana Kampus Hijauku Yang Dulu

  • Nurhalim

  • Tiap manusia adalah pelaku sejarah kehidupan baik sadar maupun dalam ketidak sadarannya. Bahkan nabi pun mengatakan tiap diri manusia itu adalah pemimpin, pengaruh yang di timbulkan manusia akan membawa dampak bagi dirinya dan lingkungannya , mungkin orang yang belajar ilmu social mengatas namakan sociology .
    Masih teringat pertama kali menginjakkan kaki di kampus hijau yang penuh dengan pesona tak henti mata memandang senyum  para mahasiswa yang asik bercengkrama dan keramahan sang pemegang otoritas dalam memberikan fasilitas, silaturahmi yang berjalan begitu elok nan islami tak ada sekat . kampus bagai rumah kedua setelah  kosan ataupun rumah sebenarnya.
    Bangunan tua yang kini mungkin sudah terlupakan bahkan berdebu  menjadi saksi betapa kentalnya nuansa kebersamaan mahasiswa,  tak ada teman se fakultas yang tak terlihat walaupun hanya sekedar kenal muka , pertemuan yang sangat kental nuansa kekerabatan juga menjadi ciri khas saat di mana sang kaka mngetahui adiknya dan sang adik mengenal Kaka – nya.
    Sudah lazim terngiang di telinga  panggilan kanda dan dinda yang melekat khas pada kebersamaan di  bangunan tua kampus itu. Juga  tidak terlupakan Perlawanan  bergerilya dan lantang bersuara , bahkan pengkajian fenomena otoriras rezim dalam mengambil kebijakan menjadi kajian bersama mahasiswa, dialektika yang terjadi menjadi sarapan pagi pemikiran mahasiswa melihat Negaranya, sebagai salah satu tugasnya “ control of social”.
    Iklim kampus  yang dibumbuhi pemikiran yang mendalam atas masalah yang menjadi topic pembicaraan media menjadi tolak ukur berfikir benar dan tidak gampang ikut arus shingga terombang ambing oleh kerancuan berfikir.  Hampir berbanding terbalik di saat sekarang. entah bagaimana ini terjadi? Atau bagaimana ini ditimbulkan ?
    Seperti boneka dengan atribut kemahasiswaan yang hanya patuh dan taat pada pemegang otoritas dan  terpacu oleh nominalisasi angka pada Indeks Prestasi Komulatif menjadi patron  keberhasilan dari tujuan menjadi seorang mahasiswa. Tak ada lagi suara tak ada lagi kritikan yang hanya adalah Ketegangan dan menjadi generasi  yang berupa angka.
    Senyuman di raut muka itu hilang entah kemana? Mereka hanya sibuk dengan teman sekelas untuk cepat menyelesaikan tugas dari dosen selayaknya sang opurtinitis, yang hanya ada saat berkepentingan. dan sesudah berlalu begitu saja menjadi sosok yang tak perlu  mendengar dan melihat orang di sekitarnya cukup tugas terkumpul dan kembali lagi ke tempat kediaman untuk beristirahat tunggu kuliah selanjutnya dan mendapatkan tugas.
    Tidak cukup sampai di situ,  kebiasaan yang modern dan trendi atau biasanya di katakan modis menjadi santapan untuk dapat menjadi klan atau kasta tersendiri yang meng hegemoni supaya eksis dan menjadi sosok lain dari yang lain agar  menjadi popular, tak peduli hal itu bernilai Islami atau mengikut dari bangsa lain.
    Tak hentinya saya berfikir bagaimana semua ini menjadi culture di kampus yang katanya ingin menjadi tempat peradaban islam yang moderat . dengan berorientasikan pada kampus kelas dunia, tapi apakah juga harus merubah mahasiswa menjadi serba pragmatis dan berkrakter hedonism?
    Sungguh ironi, namun ini juga tak lepas dari pengaruh globalisasi yang sangat canggih hingga menjadikan kita sebagai pecandu , karena system dunia telah berubah menjadi serba digital,  Hanya perlakuan bijak yang harus dilakukan pihak otoritas agar semuanya tidak menjadi rancuh dalam konsepsi nilai Islami yang menjadi orientasi hakiki.
    Hambali Husain
    Fakultas Syariah dan Hukum
    Ilmu Hukum, Semester VIII

  • Nurhalim

  • Budaya kita dan globalisasi

    Berbicara tentang globalisasi, kita akan berfikir tentang sebuah dunia yang semakin terbuka dan akan membawa kita pada perspektif  “dunia tanpa batas”. Bagaimana tidak, globalisasi telah melahirkan banyak hal-hal baru yang kadang ruang dan waktu menjadi tak berarti. Contohnya saja ketika kita bisa bertatap muka meski satu sama lain dipisahkan jarak yang begitu jauh. Tentu saja globalisasi adalah produk yang memberi kita banyak hal. Berbagai macam keuntungan-keuntungan telah ada dalam dunia globalisasi.
    Globalisasi lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi transportasi dan komunikasi. Nah, perkembangan ini akan memberi sumbangsih besar pada perubahan-perubahan dari berbagai sisi, utamanya dari segi kebudayaan. Sadar tidak sadar, bahwa kebudayaan kita perlahan-lahan mulai tererosi oleh kebudayaan globalisasi yang datangnya dari barat.
    jika kita menoleh kesamping dan melihat dampak globalisasi bagi kebudayaa kita, tentu saja banyak dampak buruk. Okelah kalau ada yang bilang itu karena penyalahgunaan konsumsi. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata kita bahwa globalisasi telah berjasa besar dalam member ruang yang lebar terhadap berbagai macam kemungkinan-kemungkinan buruk. Khususnya untuk terdegradasinya kebudayaan kita.
      Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Yang jadi masalah, pemahaman kita akan globalisasi tentu saja berbeda-beda sehingga banyak persepsi yang lahir yang tentu saja akan melahirkan aksi yang berbeda pula dalam mengkonsumsi sajian dari globalisasi tersebut. Kita semua bisa melihat sendiri itu. Fenomena anak melawan orangtua, berpakaian yang agak provokatif, dan lain sebagainya adalah contoh kecil dari dampak globalisasi itu.
    Kedatangan globalisasi akan mengerus kebudayaan kita yang terkenal dengan budaya timur yang lebih mengedepankan nila-nilai dan norma-norma yang selama ini kita pertahankan. Namun, sejak globalisasi datang dan membawa sejumlah hal-hal baru yang menarik, nilai-nilai dan norma-norma itu perlahan mulai memudar. Kita bisa melihat, bagaimana keseharian kita berubah oleh globalisasi. Kita juga bisa melihat, bagaimana anak-anak muda merasa bahwa mempelajari budaya sudah kuno dan tidak menarik. Padahal, dari sanalah kita berasal. Dari sanalah kita dibesarkan. Pernahkah kita berfikir bahwa budaya globalisasi banyak mengandung hal-hal yang berbau penjajahan kebudayaan?
    Masyarakat kita yang dulunya tertutup menjadi terbuka, budaya pluralism yang semakin kencang digaungkan, dan berbagai tayangan-tayangan dari TV yang ada di tanah air kita mempertontonkan siaran yang muaranya adalah budaya yang berasal dari negeri-negeri maju seperti amerika serikat, jepang, korea, dll. Belum lagi kesenian-kesenian popular yang dibungkus dalam bentuk kaset, vcd, dvd pun makin marak dimasyarakat kita. Hal ini member gambaran akan fakta bahwa Negara-negara yang maju tekhnologinya telah memegang kendali dalam proses perubahan budaya kita. Perubahan transkultural ini mau tidak mau akan berpengaruh dalam kesenian daerah kita yang notabenenya asalah salah satu khazanah kebudayaan kita.  Tayangan-tayangan dari negeri maju yang semakin mudah didapati dan dibeli, telah berjasa besar dalam merosotnya nilai budaya itu.
    Kemana gaung kesenian kita? Tentu merupakan sebuah wacana yang menarik untuk kita simak dan sikapi. Semakin mudahnya akses informasi telah membawa kita pada dunia yang memunculkan warna-warna baru dalam sajian hiburan. Pementasan kesenian kita yang dulunya sarat akan nuansa ritual telah hilang eksistensinya menajdi hiburan yang lebih komersial dan mengutamakan hal-hal yang bersifat material.
    Memang, perkembangan ini tidak bisa kita elakkan kehadirannya. Namun, adalah bodoh jika kita sebagai masyarakat yang berbudaya menerima begitu saja semua sajian dari globalisasi. Kita semestinya melestarikan budaya yang selama ini menghiasi hidup kita. Tidak mengenggap kebudayaan itu sebagai sesuatu yang ketinggalan jaman. Tapi melihatnya sebagai identitas bangsa dan bangga dengan budaya itu.
    Semoga esok, kita mau mempelajari budaya kita sendir. Bukan mabuk dengan budaya orang lain.
    Amin.